Profile

Join date: Nov 1, 2022

About
0 Like Received
0 Comment Received
0 Best Answer

Jenis-Jenis Varian Mutasi Virus Corona

Sejak awal kemunculannya, virus corona udah bermutasi menjadi beragam varian. Hal ini dikarenakan pada dasarnya virus bisa bereplikasi dan membuat dirinya menjadi banyak.

Ketika melaksanakan hal ini, virus corona merubah “gen”-nya sedikit. Inilah yang disebut mutasi virus. Mutasi dari virus disebut variasi atau varian dari virus yang asli

Hingga artikel ini ditulis, berikut lebih dari satu varian atau mutasi dari virus corona yang udah menyebar:

1. Varian Alfa

Varian Alfa pertama kali ditemukan pada September 2020 di Inggris, dan dikenal bersama kode varian B. 1.1.7. Tingkat penularan varian virus ini adalah 43-90 prosen lebih tinggi dari virus sebelumnya.

Beberapa tanda-tanda yang umum dialami oleh orang yang terinfeksi virus corona varian Alfa adalah:

Sesak napas. Nyeri dada. Hilangnya indera perasa dan penciuman.

2. Varian Beta

Varian Beta adalah mutasi virus corona yang pertama kali ditemukan pada Oktober 2020 di Afrika Selatan. Varian bersama kode B. 1.351 ini diketahui 50 prosen lebih mudah menular dari varian sebelumnya.

Gejala infeksi varian Beta mirip layaknya tanda-tanda pada varian Alfa dan infeksi COVID-19 secara umum.

3. Varian Delta

Sempat menjadi penyebab gelombang ke dua di beragam negara, varian Delta pertama kali ditemukan pada Oktober 2020 di India. Varian ini terhitung disebut bersama kode B.1.617.2.

Tingkat penularan varian virus ini 30–100 prosen lebih mudah menular dari varian Alfa. Selain itu, varian ini terhitung bisa menular lebih cepat dan berpotensi tinggi membuat tanda-tanda yang parah.

Gejala infeksi varian delta berita gue bisa terlihat didalam 3-4 hari sesudah terinfeksi. Berikut lebih dari satu tanda-tanda yang umum dialami:

Sakit kepala. Sakit tenggorokan. Pilek. Batuk. Sesak napas. Sakit kepala. Kelelahan. Kehilangan indera perasa atau penciuman.

4. Varian Gamma

Pertama kali ditemukan di Brazil dan Jepang pada November 2020, varian Gamma dikenal bersama kode P. 1. Gejala umum yang ditimbulkan infeksi varian virus ini mirip layaknya varian lain, yakni sesak napas, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk dan pilek.

5. Varian Epsilon

Varian Epsilon atau B.1.427/B.1.429 adalah mutasi virus corona yang pertama kali ditemukan di California, Amerika Serikat. Pada 19 Maret 2021, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memasukkan varian ini sebagai variant of concern (VOC) dikarenakan sempat membuat peningkatan kasus di lebih dari satu wilayah.

Gejala dari infeksi varian ini mirip layaknya varian lain, yaitu:

Sesak napas. Sakit kepala. Sakit tenggorokan. Batuk. Pilek.

6. Varian Lambda

Varian Lambda atau C. 37 pertama kali ditemukan di Peru dan lebih dari satu negara di Amerika pada Desember 2020.

Hingga kala ini, belum diketahui tingkat penularan dan keparahan infeksi akibat varian ini. Namun, tingkat penularan varian ini diketahui tidak berbeda jauh bersama virus corona jenis pertama.

7. Varian Zeta

Varian Zeta adalah mutasi virus corona yang pertama kali ditemukan di Brazil, bersama kore P. 2. Varian ini disebut mirip layaknya varian Gamma, terhitung dari faktor gejala.

8. Varian Eta

Varian Eta pertama kali teridentifikasi di Inggris pada Desember 2020. Varian yang disebut B.1525 ini mempunyai mutasi E484-K layaknya yang ditemukan di varian Gamma, Beta, dan Zeta.

Gejala dari infeksi varian ini mirip layaknya tanda-tanda COVID-19 secara umum. Namun, sampai kala ini, WHO tetap menetapkan varian Eta sebagai Variant of Interest (VOI), dikarenakan tidak menjadi ketakutan layaknya varian lain.

9. Varian Theta

Pertama ditemukan di Filipina pada Maret 2021, varian Theta dikenal terhitung bersama kode P. 3. Hingga kini belum banyak informasi tentang tingkat penularan dan keparahan infeksi akibat varian ini.

Namun, varian Theta disebut-sebut lebih cepat menular dibanding varian sebelumnya. Dari faktor gejala, secara umum mirip layaknya varian lainnya.

10. Varian Iota

Varian Iota pertama kali ditemukan pada November 2020 di New York, Amerika Serikat. Hingga kini, belum diketahui apakah varian bersama kode B.1.526 ini mempunyai tingkat penularan dan keparahan infeksi yang lebih tinggi dari varian lain.

11. Varian Mu

Varian Mu pertama kali diidentifikasi di Kolombia pada Januari 2021, selanjutnya secara ilmiah disebut bersama kode B.1.621. Hingga kala ini WHO tetap mengklasifikasikan varian Mu sebagai VOI.

Sebab, varian ini diketahui belum mengundang ketakutan layaknya pada varian Alpha dan Delta. Gejala umum infeksi varian Mu mirip layaknya varian lainnya, yakni demam, batuk, dan hilangnya indra perasa dan juga penciuman.

12. Varian Kappa

Sama layaknya varian Delta, varian Kappa terhitung pertama kali ditemukan di India pada Desember 2020. Varian bersama kode B.1.617.1 ini tetap diklasifikasikan sebagai VOI, mirip layaknya varian Lambda, Eta, dan Iota.

Hal ini dikarenakan belum tersedia information untuk meyakinkan tingkat penularan, keparahan infeksi, dan jenis tanda-tanda yang ditimbulkan oleh COVID-19 varian Kappa ini.

13. Varian Omicron

Varian Omicron pertama kali dilaporkan ke WHO pada 24 November 2021, dari Afrika Selatan. Varian bersama kode B.1.1.529 ini diklasifikasikan sebagai VOC, dikarenakan mempunyai pembawaan yang wajib diwaspadai layaknya varian Delta, Gamma, Beta, dan Alpha.

Varian Omicron diketahui mempunyai kira-kira 30 kombinasi mutasi dari sejumlah varian virus corona sebelumnya, layaknya C.12, Beta dan Delta. Ini membuat varian Omicron berpotensi lebih cepat menular dibanding varian Delta dan terlalu mungkin terjadinya reinfeksi atau infeksi berulang.

Hingga kala ini, tersedia lebih dari satu subvarian turunan lainnya dari Omicron yang wajib diwaspadai, yaitu:

BA.2 Subvarian Omicron BA.2 udah terdeteksi di Indonesia sejak awal Januari 2022. Gejala-gejala yang timbul adalah mirip bersama subvarian BA.1. Cenderung layaknya flu biasa, sakit tenggorokan, batuk, pilek, dan badan menjadi pegal-pegal. Kendati demikian tingkat penularan subvarian Omicron BA.2 lebih tinggi dibandingkan subvarian sebelumnya.

BA.3 Subvarian BA.3 pertama kali terdeteksi di barat laut Afrika Selatan. Subvarian Omicron BA.3 menyebar bersama kecepatan yang terlalu rendah. Selain itu, subvarian ini terhitung membuat lebih sedikit kasus dibanding BA.1 dan BA.2. Gejala yang timbul dari infeksi subvarian BA.3 dikabarkan memadai mudah dan hampir mirip bersama BA.1 dan BA.2.

BA.4 dan BA.5 Pertama kali terdeteksi di Indonesia pada 6 Juni 2022. Sub varian BA.4 dan BA.5 ini dikabarkan mempunyai efektivitas angka reproduksi yang lebih tinggi jikalau dibandingkan bersama BA.2 atau subvarian lain. Artinya, sub varian ini mempunyai tingkat penularan yang lebih tinggi dibandingkan sub varian sebelumnya.

Beberapa tanda-tanda umum dari infeksi varian Omicron adalah:

Pilek. Sakit kepala. Kelelahan mudah sampai parah. Bersin-bersin. Sakit tenggorokan. Selain beragam varian virus tadi, tersedia terhitung suasana lain yang wajib diwaspadai, yakni flurona.

Flurona adalah koinfeksi atau infeksi ganda yang terjadi dikala seseorang terinfeksi virus corona dan virus flu secara bersamaan. Gejala yang ditimbulkan mirip layaknya tanda-tanda infeksi COVID-19 pada umumnya.

Pada kasus yang mudah dan sedang, tanda-tanda yang bisa terlihat adalah:

Demam. Batuk. Kelelahan. Diare. Pilek. Mual dan muntah. Sakit kepala. Sakit tenggorokan. Hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa. Beberapa orang terhitung bisa mengalami tanda-tanda berat akibat flurona. Misalnya sesak napas, nyeri dada, sulit bicara, penurunan kesadaran, dan juga wajah, bibir, dan kuku terlihat kebiruan atau pucat.

J

Jenis-Jenis Varian Mutasi Virus Corona

More actions